Healing Terbaik Kala Lebaran



libur lebaran
libur lebaran 2016 (dokumentasi pribadi)

Lebaran tuh healingnya ketemu keluarga besar. Perlu liburan lagi nggak sih?

Jujur sih, dalam tradisi keluarga besar, dalam hal ini keluarga besar suami, dulu-dulu tuh lebaran sering banget ada waktu buat jalan-jalan. Entah hari lebaran keberapa ada saja agenda  liburannya. Biasanya ke pantai, yang memang banyak di Bandar Lampung , kampung suamiku.

Tapi itu dulu.

Entah mengapa beberapa tahun belakang, mungkin sekitar 6 tahun terakhir, tradisi itu seperti menghilang. Kalau aku perhatikan, ada dua sih faktor penyebabnya. Pertama, memang anak-anak yang dulu masih kecil-kecil dan orang tuanya pada semangat ngajak ke pantai, sekarang sudah besar-besar. Anak-anak yang beranjak remaja juga sudah punya agenda sendiri-sendiri.

Pantai bukan lagi hal menarik buat anak-anak ini. Walaupun kalau diajak, bisa jdi mereka mau-mau saja.  Akhirnya para orang tuanya -- keluarga saya dan para keluarga ipar--  jadi sedikit malas juga buat piknik hehe.

Faktor kedua, karena makin jarang ketemu, entah karena jarang atau sudah jarang kontak walau via WA , bila sudah ketemu lagi di lebaran, serasa sudah kurang chemistry dengan keluarga besar. Jadilah, keinginan buat liburan bersama sudah sangat-sangat berkurang.

Bisa mengobrol dengan akrab aja itu sudah bagus banget. Walaupun idealnya harusnya seperti ini, karena memang sudah setahunan tidak ketemu.

Kalaupun ada liburan bersama, tidak seperti dulu, yang lengkap anggotanya. Sekarang hanya kelompok-kelompok kecil, sesukanya saja atau terbagi-bagi. Maklumlah, sepertinya sudah punya kepentingan masing-masing dan susah disatukan.

So, acara seru yang dulu-dulu tuh sepertinya tinggal kenangan saja. Padahal kesini-kesininya banyak anggota-anggota baru di keluarga kami. Misalnya adik ipar yang sudah menikah dan masing-masingnya sudah memiliki anak-anak. Tapi, nggak tau kenapa, waktunya tak pernah ada lagi buat liburan bersama.

Kurang seru? Ya, tergantung cara pandangnya saja.

Healing terbaik adalah bertemu keluarga besar

Satu-satunya yang masih kami lakukan dan berbarengan dengan keluarga besar ini adalah mudik ke kampung asal suami, yang bisa ditempuh kira-kira 3  jam dari rumah mertua saat ini.

Saking sudah banyaknya jumlah keluarga, biasanya kami akan membutuhkan tiga mobil buat mengangkut semuanya menuju kampung asli bapak mertua almarhum.

Momen inilah satu-satunya momen dimana keluarga besar bisa berkumpul. 

Biasanya agenda resminya selain ziarah, akan mengunjungi beberapa rumah yang masih ada hubungan kekerabatan dekat.

Meskipun hanya dari rumah-rumah, agendanya sudah dipastikan seharian full. Pernah dalam suatu kesempatan, saya hitung ada 12 rumah yang dinaikin buat silaturahmi, banyak banget kan? Walau terasa kenyang juga sih,karena makan cemilan dan makan besar dari rumah ke rumah.

Bila berangkat pagi harinya maka malam hari lagi akan sampai ke rumah mertua. Itupun tiga mobil pasti udah nggak bareng lagi, saking lelah, macet dan tujuan masing-masingnya.

Akhirnya setiap lebaran sekarang, ekspektasi tak pernah muluk-muluk lagi. Walau libur biasanya lumayan panjang seminggu hingga 10 hari namun agenda jalan-jalan di skip dulu.

Agendanya fokus silaturahmi ke keluarga besar yang memang hanya setahun sekali barangkali bertemunya.

Meskipun agenda lebaran hanya itu-itu saja dan terasa tidak ada yang baru, tampaknya hal ini wajib banget disyukuri.

Rasa syukur terutama karena masih diberi kesehatan dan nikmat silaturahmi. Walau tak selalu menarik dan berjalan mulus. 

Disebut ketidakmulusan karena kadang-kadang ya ada saja yang aneh-aneh. Misalnya yang merasa lebih sukses atau membanggakan pencapaian mereka. Maklumlah lama tak berjumpa, mungkin banyak yang nggak update juga isu seputar keluarga terkini hehe.

Anak-anak yang sudah besar kadang-kadang juga jadi bahan pembicaraan mendalam. Mulai sekolah atau kuliahnya dimana, prestasi apa yang sudah dicapai dan lainnya. Kadang cukup memusingkan juga menjawab beragam pertanyaan yang ada-ada saja terus.

Yang harus dicatat baik-baik : jangan pernah merasa iri dengan pencapaian orang lain. hal lain sebaiknya jangan kepo berlebihan. jadi, kalau orang lain nggak cerita kehidupan mereka, tak perlu lah bertanya-tanya berlebihan.

Ya sudahlah

Pada akhirnya apapun dalam hidup harus terus disyukuri sebagai bentuk pencapai-pencapaian berharga, mungkin tidak sekeren orang lain atau keluarga lain yang kita sering dengar obrolannya di keluarga besar.

Tapi percayalah, semua harus tetap dirayakan dan disyukuri tentunya.

Selamat menjelang healing lagi di idul fitri 1445 H

Semoga bermanfaat 

 

  



Healing Terbaik Kala Lebaran Healing Terbaik Kala Lebaran Reviewed by Pojok Rumahan on Maret 24, 2024 Rating: 5

4 komentar:

  1. Kalau aku malah jarang banget pergi ke tempat wisata pas libur lebaran. Biasanya lebih memilih untuk silaturahmi ke rumah saudara dan teman dekat. Aku memang sengaja menghindari tempat keramaian seperti tempat wisata pas libur lebaran. Mungkin lebih memilih nongkrong santai sambil minum kopi dan menikmati suasana lebaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya ya kak, walaupun tempat makan atau tempat minum kopi juga rame banget habis lebaran tuh. Sama kak, sudah beberapa tahun terakhir juga nggak pernah lagi ngisi lebiran Ramadan , selain ya itu kunjugan ke rumah-rumah saudara aja :) alhamdulillah silaturahmi terjaga

      Hapus
  2. Setuju. Jadi ingat tiap lebaran dulu, pasti papa mama ngajakin juga berkunjung ke rumah2 saudara yg lain. Dan itu sebenarnya asyik banget. Sekarang udh jauh dari ortu, tapi untungnya di jakarta masih ada saudara yang dituakan dari pihak mama. Jadi kami rutin silaturrahmi ke sana. Bisa ngobrol, makan enak, pokoknya bawaan selalu happy pulang dari bertamu.

    Kalo bukan karena lebaran, rasanya susah untuk bisa bertemu begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalau nggak lebaran kadang memang nggak ada tamu.sesusah itu ya ketemuan sama org dan silaturahmi :) semoga sehat trus,biar kita bisa tetap silaturahmi,aamiin

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.